PERBEDAAN ANTARA NAHDLATUL ULAMA (NU) DAN SALAFIYAH DALAM BIDANG AKIDAH
PERBEDAAN ANTARA NAHDLATUL ULAMA (NU)
DAN SALAFIYAH DALAM BIDANG AKIDAH
Perbedaan
antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Salafiyah dalam bidang akidah terletak pada
pendekatan dan metode mereka dalam memahami konsep dasar keimanan, terutama
terkait dengan pemahaman sifat-sifat Allah, konsep tauhid, dan sikap terhadap
praktik-praktik keagamaan. Berikut
penjelasan terperinci mengenai perbedaan tersebut:
1.
Pendekatan Teologis (Metodologi dalam Memahami Akidah)
a. Nahdlatul Ulama (NU):
- Asy'ariyah dan Maturidiyah: NU berpegang pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah
dengan landasan utama ajaran Asy'ariyah dan Maturidiyah. Kedua tokoh ini,
Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dikenal dengan metode
teologi yang memadukan antara dalil naqli (teks Al-Qur'an dan hadis) dan
aqli (rasio/akal). NU menggunakan pendekatan ini untuk menjelaskan
sifat-sifat Allah dan konsep keimanan, yang dinilai lebih moderat dan
sesuai dengan perkembangan zaman.
- Penafsiran Sifat-Sifat Allah: Dalam memahami sifat-sifat Allah, NU tidak hanya
mengandalkan makna tekstual dari Al-Qur'an dan hadis, tetapi juga
menggunakan penakwilan (ta'wil) untuk menghindari pemahaman yang dapat
menyeret ke tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Misalnya,
sifat "istawa" (bersemayam) ditakwilkan sebagai
"menguasai" untuk menghindari pemahaman yang menyerupai sifat
makhluk.
- Penggunaan Ilmu Kalam:
NU menerima ilmu kalam (teologi dialektika) sebagai sarana untuk
memperkuat argumen rasional tentang keesaan dan sifat-sifat Allah, serta
untuk menjawab berbagai keraguan atau paham menyimpang.
b. Salafiyah:
- Pemahaman Tekstual:
Salafiyah berpegang teguh pada metode pemahaman Al-Qur'an dan hadis sesuai
dengan pemahaman para salafush shalih (generasi awal Islam). Mereka
menolak penggunaan penakwilan yang dianggap dapat mengaburkan makna asli
dari teks-teks suci.
- Tafwid dan Itsbat:
Salafiyah lebih cenderung menggunakan tafwid, yaitu menyerahkan sepenuhnya
makna dari sifat-sifat Allah kepada Allah tanpa memberikan tafsiran
tambahan. Mereka juga menggunakan itsbat, yaitu menetapkan sifat-sifat
Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis, tanpa
menanyakan "bagaimana" (bila kaifa). Misalnya, mereka memahami
sifat "istawa" sebagai bersemayam di atas Arsy tanpa membahas
bagaimana caranya.
- Penolakan terhadap Ilmu Kalam: Salafiyah menolak ilmu kalam dan menganggapnya
sebagai sesuatu yang diada-adakan (bid'ah) dalam urusan agama. Mereka lebih
mengedepankan pendekatan yang literal dan sederhana dalam memahami akidah,
tanpa mengedepankan logika filsafat.
2.
Konsep Tauhid
a. Nahdlatul Ulama (NU):
- Tauhid Tiga Aspek:
NU mengajarkan konsep tauhid dengan tiga aspek utama:
- Tauhid Rububiyah: Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta,
Pengatur, dan Pemelihara alam semesta.
- Tauhid Uluhiyah:
Keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi, yang berarti bahwa
seluruh bentuk ibadah hanya ditujukan kepada-Nya.
- Tauhid Asma wa Sifat: Memahami dan meyakini sifat-sifat Allah sebagaimana
disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis, namun dengan penakwilan yang
dilakukan oleh ulama Asy’ariyah dan Maturidiyah untuk menghindari
kesalahpahaman.
- Tawassul dan Tabarruk:
NU membolehkan praktik tawassul (memohon kepada Allah melalui perantara
orang saleh yang sudah meninggal atau masih hidup) dan tabarruk (mengambil
berkah dari benda atau tempat yang dianggap suci). Praktik ini dianggap
sebagai bentuk penghormatan kepada para wali dan ulama yang memiliki
kedudukan di sisi Allah.
b. Salafiyah:
- Penekanan pada Tauhid Uluhiyah: Bagi Salafiyah, tauhid uluhiyah memiliki peran yang
sangat penting dan sering menjadi fokus utama dakwah mereka. Mereka
menekankan bahwa seseorang tidak cukup hanya mengakui keesaan Allah dalam
hal rububiyah (seperti banyaknya kaum musyrikin yang juga mengakui adanya
Allah sebagai Pencipta). Oleh karena itu, segala bentuk ibadah harus
langsung kepada Allah tanpa ada perantara.
- Penolakan Tawassul dan Tabarruk: Salafiyah menolak tawassul yang dilakukan melalui
orang-orang yang sudah meninggal atau benda-benda tertentu, karena
dianggap sebagai bentuk syirik atau perbuatan yang dapat membawa kepada
syirik. Menurut mereka, doa dan permohonan hanya boleh ditujukan langsung
kepada Allah tanpa perantara.
3.
Pandangan tentang Bid'ah
a. Nahdlatul Ulama (NU):
- Konsep Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dhalalah: NU membagi bid'ah menjadi dua, yaitu:
- Bid'ah Hasanah:
Inovasi baru yang memiliki manfaat dan tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip dasar agama. Misalnya, peringatan Maulid Nabi, tahlilan,
dan kegiatan keagamaan lainnya yang tidak dilakukan di masa Rasulullah,
namun memiliki dalil umum yang mendukung.
- Bid'ah Dhalalah:
Perbuatan baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama dan
tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an maupun hadis.
- Pendekatan Moderat:
NU melihat bahwa dalam perkembangan zaman, terdapat kebutuhan untuk
melakukan inovasi yang tidak merusak esensi ajaran agama. Hal ini
dilakukan dengan mempertimbangkan qiyas (analogi hukum) dan maqasid
syariah (tujuan-tujuan syariah).
b. Salafiyah:
- Penolakan terhadap Segala Bentuk Bid’ah: Salafiyah sangat ketat dalam menilai bid'ah. Mereka
berpegang pada hadis Rasulullah SAW yang menyatakan, "Kullu bid'atin
dhalalah" (Setiap bid'ah adalah sesat). Dengan demikian, mereka
menganggap semua inovasi dalam hal ibadah sebagai bid'ah yang terlarang,
termasuk perayaan-perayaan tertentu yang tidak dilakukan oleh Nabi dan
para sahabat.
- Pemurnian Ibadah:
Bagi Salafiyah, penting untuk memurnikan ibadah dari segala bentuk inovasi
yang tidak diajarkan oleh Nabi. Oleh karena itu, mereka menghindari
praktik-praktik seperti ziarah kubur dengan tujuan meminta berkah,
peringatan Maulid Nabi, dan tahlilan.
4.
Sikap terhadap Tradisi Lokal
a. Nahdlatul Ulama (NU):
- Akomodatif terhadap Tradisi Lokal: NU cenderung akomodatif dalam mengintegrasikan
tradisi lokal dengan ajaran Islam, selama tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip dasar agama. Ini termasuk penerimaan terhadap berbagai
tradisi kultural seperti slametan, ziarah kubur, dan tahlilan. Pendekatan
ini didasarkan pada prinsip al-muhafadhah 'ala qadim al-shalih wal akhdzu
bil jadid al-ashlah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil
yang baru yang lebih baik).
- Toleransi terhadap Perbedaan: Sikap ini juga terlihat dalam kemampuan NU untuk
beradaptasi dengan kondisi sosial budaya setempat di berbagai wilayah
Indonesia, sehingga ajaran Islam dapat diterima dengan baik oleh
masyarakat luas.
b. Salafiyah:
- Penolakan terhadap Tradisi yang Tidak Ada Dalilnya: Salafiyah lebih cenderung menolak tradisi yang tidak
ada dalilnya secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan hadis. Mereka menekankan
pentingnya mengikuti tradisi dan praktik yang dilakukan oleh Nabi dan para
sahabat secara ketat.
- Purifikasi Ajaran:
Sikap Salafiyah terhadap tradisi lokal sering kali dipandang sebagai upaya
purifikasi (pemurnian) terhadap ajaran Islam dari pengaruh budaya dan
tradisi lokal yang tidak diajarkan oleh Nabi. Mereka menganggap tradisi
seperti ziarah kubur untuk mencari berkah atau perayaan keagamaan yang
tidak diajarkan oleh Nabi sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan Islam
yang murni.
Kesimpulan:
Perbedaan akidah antara Nahdlatul
Ulama dan Salafiyah terletak pada pendekatan teologis, konsep tauhid, pandangan
tentang bid'ah, dan sikap terhadap tradisi lokal. NU mengedepankan pendekatan
yang moderat dengan memadukan akal dan wahyu serta menerima adaptasi tradisi
lokal, sedangkan Salafiyah menekankan pendekatan tekstual yang ketat dengan
berusaha memurnikan ajaran Islam dari segala bentuk inovasi dan tradisi yang
tidak ada pada masa Nabi.
%20and%20Salafiyah,%20focusing%20on%20their%20differences%20in%20Islamic%20theology%20(aqidah.webp)
%20in%20Islamic%20fiqh.%20The%20timeline%20is%20divided%20into%20seven%20key%20points.webp)
Komentar
Posting Komentar