EMANSIPASI KEBABLASAN DAN HILANGNYA KODRAT WANITA
Emansipasi Kebablasan
dan Hilangnya Kodrat Wanita
Emansipasi wanita adalah proses pelepasan diri
para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan
hukum yang membatasi kemungkinan seorang wanita untuk berkembang dan maju di
segala bidang dalam kehidupan masyarakat (https://id.wikipedia.org/wiki/Emansipasi).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, emansipasi
diartikan sebagai pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakat.
Dalam pengertiannya, Kartini memaknai
emansipasi dengan wanita yang mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan
seluas-luasnya dan diberi kesempatan untuk mengaplikasikan keilmuannya. Juga
agar wanita tidak lagi dipandang sebelah mata akan kecerdasannya. Namun, perlu
digarisbawahi bahwa tidak ada pernyataan tentang persamaan seluruhnya antara
hak wanita dengan pria.
Sekarang, emansipasi dipakai sebagai senjata
pamungkas bagi kaum wanita mengingat saat ini adalah zaman terang menurut
definisi RA Kartini, Habis
Gelap Terbitlah Terang. Berkedok emansipasi, perempuan kini
menyuarakan tentang hak kebebasan seluruhnya. Memprotes habis-habisan dengan
kekerasan mengenai haknya, emansipasi, katanya.
Berlenggak-lenggok menjual paras dan keindahan
tubuh, kebebasan berekspresi, katanya. Atau protes dengan menghujat dan mencela
habis-habisan mengenai suatu permasalahan, kebebasan berpendapat, katanya. Atau
bahkan bekerja hampir 20 jam sehari dan menitipkan keluarganya pada jasa
penitipan, biar mandiri finansial, katanya, atau mengikuti kegiatan siang malam
untuk mengejar karir katanya, tapi mereka lupa kodrat mereka sebagai ibu dan
Istri.
"Jika
Kartini sekarang masih hidup, dia pasti akan menyerang pengertian emansipasi
yang ada seperti sekarang ini. Kartini akan menyerang kontes ratu-ratuan yang
mengumbar aurat, Kartini akan menyerang keinginan perempuan untuk menjadi
seperti pria, yang sebenarnya berangkat dari perasaan rendah diri dan pengakuan
jika pria lebih unggul, sebab menurut Kartini, perempuan dan laki-laki itu
memiliki keunggulan dan juga kelemahannya masing-masing yang unik, sebab itu
mereka memerlukan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi," -era
muslim.
Belakangan, terjadi banyak sekali fenomena
mengatasnamakan emansipasi. Beberapa perempuan sekarang sangat gigih
memperjuangkan hak-haknya, lebih lagi perkara hak keperempuanannya. Berwawasan
luas tentang kehidupan, namun tidak untuk keluarga. Sistem Gila Kerja dan Gila Karir, mulai merambah pada
sisi kehidupan perempuan kita.
Jasa penitipan anak sangat marak belakangan,
juga jasa menjaga anak. Keluarga bukan lagi sebagai media pembelajaran awal
bagi seorang anak ataupun anggota lain, namun beralih fungsi sebagai status
semata. Beberapa kasus bunuh diri seorang anak karena merasa kesepian pun
belakangan marak terjadi, banyak kasus perceraian dini terjadi, bahkan mirisnya
para kaum wanita sudah berani menantang cerai, “Jika
dilihat dari data yang ada memang demikian kejadiannya. Lebih banyak perkara
gugat cerai. Artinya memang lebih banyak yang meminta cerai adalah kaum
wanitanya. Dibanding tahun 2019, jumlah perceraian di Jepara tidak begitu
berbeda,” ujar Tazkiyaturobiah, Selasa (5/1/2021).
Juga, banyak kaum suami yang kini tak lagi
menjadikan rumah atau keluarga sebagai peristirahatan atau memaknai kata
pulang. "Saya lebih suka makan di luar daripada di rumah, istri saya tidak
bisa memasak dan terlalu sibuk akan pekerjaannya," merupakan salah satu
jeritan kaum suami yang tak lagi nyaman berada di rumah.
Akibatnya? Beragam. Kasus perceraian dan
tingkat kriminalitas anak-anak korban broken home meroket
dalam 10 tahun terakhir. Makna perempuanku mulai
sirna, berganti dengan nama dan deretan jabatan yang mentereng. Tak hanya itu,
kehidupan bebas dan perselingkuhan pun marak terjadi karena sudah tidak adanya
batas antara laki-laki dan perempuan.
Beberapa fenomena juga terjadi pada perempuan
muda kini. Perempuan-perempuan kita dengan gigihnya mengaplikasikan keilmuan
yang ditekuninya hingga sistem Gila Kerja dan Gila Karir tercipta. Kemudian
perempuan-perempuan ini tidak lagi menginginkan adanya suatu hubungan
pernikahan dan memunculkan beberapa pemikiran-pemikiran naif seperti takut
gagal menjalin hubungan, atau anti terhadap lawan jenis untuk menjalin hubungan
namun sangat bebas batasnya dalam berteman.
Tak ada masalah mengenai pengaplikasian atau
sistem Gila Kerja-nya. Namun, melupakan
kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kata emansipasi
menjadi miris terdengar. perempuan itu rumah bagi keluarganya, Perempuan itu
ibu yang menyusui bahwa perempuan itu tahu batas antara hak dan kewajibannya.
Emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng
Kartini bukan berarti peran wanita yang tanpa batas, namun tentu emansipasi ini
harus dibatasi secara ideal dan professional. Tanpa melupakan kodratnya sebagai Ibu dan
Istri. Mengenai hal ini ada seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan
sebagai berikut: “Al-Ummu
madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”.
Artinya: Ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama
bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau
persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.
%20in%20Islamic%20fiqh.%20The%20timeline%20is%20divided%20into%20seven%20key%20points.webp)
Wah, keren banget nih
BalasHapus