Mengapa Saya Fanatik Terhadap NU?



MENGAPA SAYA FANATIK TERHADAP NU ?
Banyak teman-teman  yang bertanya pada saya, katanya "mengapa kamu sampai bisa fanatik terhadap NU?". Untuk menjawab pertanyaan dari teman teman saya, perlu saya jelaskan terlebih dahulu pengertian kata fanatik, agara tidak terjadi salah persepsi dikemudian hari.
Kata fanatik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti teramat kuat kepercayaan (keyakinan) terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya).
Fanatisme adalah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan.
Filsuf George Santayana mendefinisikan fanatisme sebagai, "melipatgandakan usaha Anda ketika Anda lupa tujuan Anda"; dan menurut Winston Churchill, "Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya". Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan (Wikipedia.Org).
Sifat fanatik adalah “terlalu” atau “ekstrem”.  Apa pun yang namanya “ekstrem” itu tidak baik, apa pun yang “terlalu” itu pun tidak benar. Sudah bukan rahasia lagi, tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang menyukai orang yang ekstrem atau yang menganggap diri sendiri paling benar.
Dari pengertian fanatik tersebut, saya mencoba menjawab pertanyaan teman-teman saya .
Dulu 
Saat jiwa muda ini bergejolak bertanya tanya tentang kebenaran semua agama, jiwa ini mulai digoncang badai keraguan tentang eksistensi Tuhan yang sesungguhnya, tentang siapa, mengapa, bagaimana, kapan, untuk apa, dari apa. Mungkin ini juga banyak di alami oleh kaum muda yang lain, di tengah guncangan keraguan yang sangat dalam, saya berusaha memahami semua agama yang ada, di tengah kekalutan dan suramnya pengelanaan, saya menemukan seberkas cahaya Iman, semakin lama semakin terang dan semakin kuat cahaya itu, saat itulah saya menemukan Islam yang sesungguhnya, lama-kelamaan saya mulai mencintai agama ini, saat cinta ini mulai tertambat, saya terperangah menyaksikan banyaknya firqoh yang ada didalam Islam. Ia bagai perahu perahu yang mengantarkan ke tempat tujuan, Yaitu Islam. Kemudian saya mulai melihat-lihat perahu-perahu itu, terkadang saya menaiki sebentar, keraguan demi keraguan terus mengusik hati saya, dalam hati saya berkata, apakah perahu ini yang bisa menghantarkan saya ke tempat tujuanku?.
Pertanyaan itu selalu menghantui saya ketika menaiki dan melihat-lihat perahu perahu itu. Sampai saya menemukan satu perahu yang begitu unik, perahu itu tidak begitu mewah dan terkesan biasa biasa saja, namun perahu ini sangat kokoh, karena mampu menampung banyak penumpang tapi tanpa goyah sedikitpun, sang penjaga perahu itu tersenyum dengan senyum yang begitu tulus padaku sampai hatikupun terketuk, untuk melihat-lihat perahu ini, saya melihat para penumpangnyapun terdiri dari orang orang yang sangat sederhana, mereka ramah, mereka selalu menebar senyum pada penumpang yang lain, mereka tidak arogan, sungguh damai berada di perahu ini.
Maka saya yaqin, perahu inilah yang bisa menghantarkanku ke tempat tujuanku. Perahu ini berpanjikan Nahdlatul ulama’ para nahkodanya adalah para ulama’ yang benar benar tulus berjuang untuk agama ini, waktu demi waktu saya semakin yakin dan semakin mencintai perahu ini, perasaan ini sama persis ketika awal saya menemukan Islam.
Saat cinta ini semakin besar pada NU, saya menemukan Indonesia ada didalamnya, sebagai bentuk negara yang berbeda agama, ras, suku, bangsa, semakin besar cinta ini pada NU maka semakin besar pula kecintaanku pada NKRI beserta perbedaanya. sikap fanatik, justru  akan menimbulkan sikap benar sendiri yang lain salah sehingga harus disingkirkan, dan inilah sikap yang mengancam NKRI. Jadi tidak benar jika sikap cinta dikatakan sebagai fanatik. Kecintaan ini pada NU akan terus tertanam dan akan saya bawa sampai mati, dan saat saya sudah meninggalpun saya akan tetap membawa panji ini untuk saya pertanggung jawabkan kepada Allah dan Rasulullah, bahwa ini adalah ijtihadku dalam ber-Islam.

Komentar

Postingan Populer